Pak Stanley memperkenalkan istilah organisasi baru yaitu Giant-Leap Organization (GLO), yaitu organisasi yang mampu mencapai lompatan kinerja yang konsisten dan sustainable dalam kurun waktu lama. Hal ini bisa diwujudkan jika pengelolaan organisasi tersebut berpusat pada kekuatan sumber daya manusia.
Berbeda dengan organisasi yang hanya mengejar pertumbuhan sesaat, konsep GLO menempatkan manusia sebagai pusat dari seluruh proses organisasi. Kinerja yang luar biasa tidak semata-mata dihasilkan oleh teknologi, modal, ataupun strategi bisnis, melainkan oleh kemampuan organisasi dalam mengembangkan potensi setiap individu di dalamnya.
Melalui sistem yang kokoh, budaya kerja yang sehat, serta kepemimpinan yang berkembang di berbagai tingkatan, orang-orang yang awalnya tampak biasa dapat tumbuh menjadi sumber daya manusia yang luar biasa.
Dengan kata lain, organisasi yang hebat bukanlah organisasi yang beruntung memiliki orang-orang hebat sejak awal, melainkan organisasi yang mampu membentuk dan mengembangkan mereka.
Di dalam GLO, melalui sistim kokoh yang berbasis pada pengembangan potensi SDM, maka “orang-orang biasa” akan menjadi “orang-orang luar biasa”. Melalui iklim kerja yang diciptakan, budaya perusahaan yang dipraktekkan, pola kerja yang berfokus pada tim, maka potensi SDM yang biasa-biasa saja akan mampu dioptimalkan menjadi kekuatan luar biasa.
Berikut ini adalah model Giant Leap Organization yang ditawarkan oleh Pak Stanley:
Leader-Driven Enterprise.
Collective leader adalah “jantung” terwujudnya GLO.
Menurut konsep GLO, kepemimpinan bukan hanya berada di tingkat direksi atau manajemen puncak. Kepemimpinan harus tumbuh di seluruh lapisan organisasi.
Organisasi yang sehat pada hakikatnya merupakan "pabrik pemimpin". Setiap pemimpin memiliki tanggung jawab untuk melahirkan pemimpin-pemimpin baru, bukan sekadar menghasilkan bawahan yang patuh.
Ketika kepemimpinan tersebar di berbagai level organisasi, proses pengambilan keputusan menjadi lebih cepat, rasa memiliki meningkat, dan organisasi lebih siap menghadapi perubahan.
Managing by Values.
Lasting company is values-based company.
Elemen values ini adalah nilai-nilai budaya yang dipegang teguh dan diyakini oleh semua karyawan dan teraplikasi dalam perilaku kolektif mereka, mencakup level IQ, EQ dan SQ. Bahkan di Adira, karyawan yang beragama Islam diwajibkan ikut pelatihan ESQ.
Perusahaan yang mampu bertahan dalam jangka panjang adalah perusahaan yang dibangun di atas nilai-nilai yang diyakini bersama.
Nilai-nilai tersebut bukan sekadar slogan di dinding kantor, tetapi menjadi pedoman perilaku sehari-hari seluruh anggota organisasi.
Dalam konsep GLO, pengembangan sumber daya manusia tidak hanya menyentuh aspek intelektual (Intelligence Quotient atau IQ), tetapi juga kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Ketiganya dipandang sebagai fondasi penting dalam membangun budaya organisasi yang kuat.
The Power of Team Sinergy.
GLO bukanlah organisasi yang piawai menciptakan “superman”, tapi “super team”.
Menurut konsep ini, sinergi tim dibangun melalui beberapa unsur utama, yaitu:
- tujuan bersama yang berorientasi pada hasil (result-oriented goals);
- chemistry yang baik antaranggota;
- kolaborasi yang selaras (synchronized collaboration);
- pemberdayaan tim;
- serta penghargaan terhadap pencapaian bersama.
Di dalam GLO, eksekusi menempati posisi sentral selain strategi.
Dalam Giant-Leap Organization, eksekusi ditempatkan sebagai disiplin organisasi yang harus dibangun secara konsisten. Kemampuan mengeksekusi bukan hanya menjadi tanggung jawab staf operasional, melainkan juga menjadi tugas setiap pemimpin di semua level organisasi.
Fokus pada eksekusi menjadi kebiasaan yang terus dipelihara sehingga organisasi mampu menerjemahkan rencana menjadi hasil nyata.
Winning Spirit.
Sebuah GLO harus memiliki orang-orang dengan spirit untuk menjadi pemenang.
Winning spirit bukan berarti mengalahkan orang lain, tetapi membangun mentalitas untuk terus berkembang, berani mencoba hal-hal baru, terbuka terhadap umpan balik, dan tidak cepat merasa puas.
Stanley Tjandra menyebut beberapa sikap yang perlu ditumbuhkan dalam organisasi, yaitu:
- Dream big, think big;
- Good is not enough;
- Sky is the limit;
- menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan mendukung.
Budaya seperti inilah yang mendorong organisasi terus belajar dan berinovasi.
Human Emphaty.
Pilar terakhir GLO menempatkan manusia sebagai pusat perhatian organisasi.
Melalui keseimbangan tersebut, setiap individu diharapkan mampu menemukan makna dalam pekerjaannya (meaning of life), yang pada akhirnya akan berdampak positif terhadap keberlangsungan organisasi.
Konsep Giant-Leap Organization menawarkan sudut pandang bahwa pertumbuhan organisasi tidak hanya bergantung pada strategi bisnis atau kecanggihan sistem, tetapi terutama pada bagaimana organisasi membangun manusia di dalamnya.
Ketika kepemimpinan berkembang di setiap level, nilai-nilai organisasi dijalankan secara konsisten, kolaborasi tim menjadi budaya, eksekusi dilakukan dengan disiplin, semangat untuk terus berkembang dipelihara, dan keseimbangan hidup karyawan diperhatikan, organisasi memiliki fondasi yang lebih kuat untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan.
Konsep ini diperkenalkan pada awal dekade 2010-an, banyak prinsip yang diangkat masih relevan sebagai bahan refleksi dalam membangun organisasi yang sehat dan berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia.