Undangan Kasih dari Anak Yatim: Ketika Brosur Donasi Diubah Menjadi Pengalaman
Arsip Aridh Dekade 1 | 2009–2010
Bagaimana jika sebuah brosur tidak berakhir di tempat sampah, tetapi
berubah menjadi alat yang digunakan, disentuh, dan menggerakkan seseorang
untuk beraksi?
Sebelum media sosial menjadi kanal komunikasi utama, sebelum WhatsApp menjadi
medium sehari-hari untuk mengirim pesan dan ajakan, sebuah brosur masih sangat
bergantung pada satu kesempatan: dibaca oleh penerimanya.
Persoalannya sederhana. Sebuah lembaga sosial dapat membuat surat resmi,
melampirkan brosur donasi, lalu mengirimkannya kepada calon donatur. Akan
tetapi setelah amplop dibuka, apa yang terjadi dengan brosurnya?
Dibaca beberapa detik, lalu disimpan, atau justru dibuang?
Pertanyaan sederhana tersebut menjadi titik awal sebuah eksperimen desain yang
kemudian diberi nama “Undangan Kasih dari Anak Yatim.”
Ini adalah salah satu arsip proyek Aridh pada periode awal, sekitar 2009–2010.
Brief awalnya sebenarnya sangat sederhana:
brosur satu muka ukuran A4, full color, untuk dijadikan lampiran surat
resmi.
Namun, desain tidak berhenti pada brief.
Dari brosur menjadi benda yang bekerja
Saat itu, saya berpikir: sayang sekali jika selembar A4 hanya berfungsi
sebagai media informasi yang dibaca selama beberapa detik lalu kehilangan
fungsinya.
Apalagi konteks komunikasinya berbeda pada zaman sekarang.
Media sosial belum semarak. WhatsApp belum menjadi kanal broadcast. Interaksi
antara masyarakat dan panti asuhan juga tidak terjadi setiap saat. Karena itu,
selembar media cetak yang sampai ke tangan seseorang memiliki kesempatan yang
cukup penting untuk menciptakan kontak langsung.
Pertanyaannya kemudian berubah.
Bukan lagi:
“Dengan jalan apa membuat brosur yang menarik?”
Melainkan:
“Bagaimana membuat brosur yang ingin digunakan?”
Dari pertanyaan itu muncul gagasan untuk mengubah brosur menjadi
kartu undangan yang dapat disulap menjadi kotak infak lipat.
Sebuah media komunikasi yang awalnya hanya dimaksudkan untuk menyampaikan
informasi kemudian dirancang agar mempunyai fungsi kedua.
Dari media informasi menjadi media tindakan.
Paper engineering sebagai bagian dari strategi komunikasi
Secara bentuk, Undangan Kasih dari Anak Yatim menggunakan pendekatan
paper engineering.
Selembar A4 dirancang dengan konstruksi:
-
die-cut presisi;
-
garis lipatan (score) yang diperhitungkan;
-
konstruksi tanpa lem;
-
mekanisme lipatan yang memungkinkan lembaran berubah menjadi kotak;
-
serta elemen kupu-kupu yang menjadi bagian dari identitas visual sekaligus
fungsi interaksi.
Hasil akhirnya bukan lagi sekadar selembar brosur.
Ia menjadi kotak infak lipat yang dapat berdiri dan digunakan di meja
penerimanya.
Di sinilah aspek desain menjadi menarik.
Konstruksi fisik tidak dibuat semata-mata untuk menghasilkan bentuk yang unik.
Konstruksi tersebut menjadi bagian dari strategi komunikasi.
Penerima surat harus membuka, melipat, membentuk, dan kemudian menggunakan
benda tersebut.
Ada serangkaian tindakan kecil yang membuat pesan tidak berhenti sebagai
sesuatu yang dilihat.
Tiga detik yang lebih berarti daripada sekadar visual
Salah satu bagian yang paling saya ingat dari desain ini adalah
interaksinya.
Ada momen ketika seseorang memasukkan uang ke dalam kotak melalui celah yang
dibentuk oleh elemen kupu-kupu.
Gerakannya mungkin hanya berlangsung beberapa detik.
Tetapi justru di situlah nilai desainnya.
Mata melihat ilustrasi.
Tangan merasakan kertas.
Jemari mengikuti celah.
Uang berpindah.
Kemudian seseorang menyadari bahwa ia baru saja melakukan sebuah tindakan.
Visual menarik perhatian. Fungsi menggerakkan tindakan.
Ini menjadi pelajaran penting bahwa pengalaman desain tidak selalu membutuhkan
teknologi yang kompleks. Bahkan sebuah konstruksi kertas sederhana dapat
menciptakan interaksi yang lebih bermakna daripada visual yang hanya berhenti
pada estetika.
Desain dalam konteks ini bukan hanya persoalan apa yang dilihat mata,
tetapi juga apa yang dilakukan tubuh setelah melihatnya.
Ketika benda cetak menjadi penghubung
Undangan Kasih dari Anak Yatim pada dasarnya bekerja sebagai sebuah
penghubung.
Ia menghubungkan:
surat → penerima → informasi → benda → tindakan → donasi.
Brosur tidak lagi menjadi lampiran pasif.
Ia menjadi semacam physical interface antara lembaga sosial dan calon
donatur.
Ini penting untuk memahami konteks teknologi pada masa itu.
Hari ini sebuah lembaga dapat mengirimkan tautan donasi, QR code, formulir
digital, video kampanye, atau mengarahkan audiens ke media sosial. Tetapi pada
periode ketika saluran digital belum semudah sekarang, desain fisik harus
mampu melakukan lebih banyak pekerjaan.
Satu lembar kertas harus mampu:
menarik perhatian, menjelaskan pesan, membangun kedekatan, dan
memfasilitasi tindakan.
Karena itu, keterbatasan teknologi justru mendorong eksplorasi terhadap
kemampuan medium yang tersedia.
Dari “brosur” menjadi “undangan”
Ada alasan mengapa karya ini tidak diberi nama
Brosur Donasi Anak Yatim.
Kata “brosur” menjelaskan format.
Sementara “undangan” menjelaskan hubungan.
Sebuah brosur mengatakan:
Ada informasi yang perlu Anda baca.
Sebuah undangan mengatakan:
Ada sesuatu yang ingin kami ajak Anda lakukan.
Perubahan istilah tersebut mencerminkan perubahan cara berpikir.
Desain tidak lagi hanya memikirkan media apa yang dibuat, tetapi
relasi apa yang hendak dibangun melalui media tersebut.
Karena itu, “Undangan Kasih” pada dasarnya bukan hanya nama produk cetak. Ia
adalah cara membingkai ulang fungsi sebuah brosur.
Dampaknya bukan hanya pada benda
Menurut pengurus panti asuhan pada waktu itu, hasilnya cukup berdampak: kotak
tersebut digunakan, bukan sekadar dibuang setelah dibaca. Bahkan, mereka
menyampaikan bahwa kunjungan ke panti meningkat.
Kesaksian tersebut tentu bukan pengukuran dampak dengan metodologi evaluasi
yang ketat. Namun sebagai catatan arsip project, ia menunjukkan sesuatu yang
penting:
perubahan fungsi media dapat mengubah kemungkinan respons terhadap
pesan.
Ketika sebuah media hanya membawa informasi, keberhasilannya sering berhenti
pada pertanyaan:
Apakah pesan terbaca?
Ketika media dirancang sebagai alat tindakan, pertanyaannya berubah:
Apakah orang melakukan sesuatu setelah berinteraksi dengannya?
Perubahan pertanyaan inilah yang menurut saya lebih penting daripada sekadar
perubahan bentuk.
Pelajaran dari sebuah project sebelum era AI
Lebih dari satu dekade kemudian, konteksnya sudah berubah drastis.
Hari ini, AI dapat menghasilkan puluhan bahkan ratusan alternatif visual dalam
waktu yang sangat singkat. Produksi gambar, eksplorasi gaya, penulisan teks,
pembuatan konsep, hingga pembuatan prototipe dapat dipercepat dengan berbagai
perangkat digital.
Dalam situasi seperti itu,
kemampuan menghasilkan visual bukan lagi satu-satunya ukuran nilai sebuah
karya.
Bahkan mungkin justru sebaliknya.
Ketika visual semakin mudah dibuat, pertanyaan desain menjadi semakin
mendasar:
Apa yang sebenarnya ingin digerakkan oleh desain ini?
Apakah hanya perhatian?
Apakah sekadar engagement?
Atau apakah desain tersebut mampu menghasilkan perubahan perilaku,
mempertemukan orang dengan sebuah persoalan, membuka akses, membangun
hubungan, atau mendorong seseorang melakukan sesuatu yang bermakna?
Project Undangan Kasih dari Anak Yatim mengingatkan kembali bahwa
teknologi hanyalah salah satu alat.
Pada masa itu, alatnya adalah kertas, pisau die-cut, garis
score, tinta, dan kemampuan melipat.
Hari ini, alatnya dapat berupa AI, augmented reality, QR code, platform
digital, data, atau berbagai teknologi lainnya.
Tetapi pertanyaan desainnya tetap sama:
Untuk siapa kita merancang?
Apa yang mereka alami?
Apa yang kita ingin mereka lakukan?
Dan perubahan apa yang terjadi setelahnya?
From Print to Purpose
Arsip ini membuat kami melihat kembali satu prinsip yang masih relevan hingga
sekarang:
Desain bukan hanya tentang apa yang dapat dilihat, tetapi tentang apa yang
dapat digerakkan oleh sebuah fungsi.
Sebuah pesan dapat membuat orang memahami.
Tetapi desain yang baik memiliki kemungkinan untuk membuat seseorang
bertindak.
Dalam Undangan Kasih dari Anak Yatim, selembar A4 tidak berhenti
sebagai brosur. Ia berubah menjadi benda yang hadir di meja penerima,
disentuh, dilipat, digunakan, dan menjadi perantara sebuah tindakan
sosial.
Itulah yang membuat arsip ini menarik untuk dibaca kembali hari ini.
Bukan karena ia merupakan karya lama.
Melainkan karena ia menunjukkan sebuah prinsip yang tidak menjadi usang:
ketika medium berubah, tujuan desain tetap harus kembali kepada manusia.
From print to purpose.
Catatan ARSip
Project: Undangan Kasih dari Anak Yatim
Periode: 2009–2010
Kategori: Social Design / Fundraising Communication / Paper
Engineering
Medium: Printed paper, die-cut & folding construction
Format awal: Brosur A4 satu muka, full color
Transformasi: Brosur → kartu undangan → kotak infak lipat
Konteks: Komunikasi dan penggalangan donasi lembaga sosial sebelum
maraknya media sosial dan mobile messaging
ARSip Aridh Dekade 1 merupakan dokumentasi atas gagasan, karya, eksperimen,
dan pengalaman yang menjadi bagian dari perjalanan pemikiran Aridh sebelum
berkembang menjadi pendekatan desain solusi seperti sekarang.
