Awal Agustus 2026 saya memperbaharui postingan yang diterbitkan pada tahun 2017 ini, sebagai refleksi atas pandangan tiga akademisi Indonesia mengenai industrialisasi dan kedaulatan ekonomi. Beberapa perkembangan dari 10 tahun yang lalu, tentu telah mengubah lanskap industri Indonesia, namun pertanyaan mendasar yang mereka ajukan masih relevan untuk direnungkan: sejauh mana Indonesia telah membangun kemandirian dalam teknologi, industri, dan inovasi? Catatan Pembaruan diawali #2026.
![]() |
| Gambar dari hukumonline.com |
Indonesia itu merupakan negara outsourcing. Jadi, Indonesia itu tidak melakukan industrialisasi. Karena Indonesia itu hanya memiliki pabrik saja, itu pun tidak menyelenggarakan pendirian pabrik di Indonesia, tapi milik asing. Negara itu berfungsi sebagai tukang pembersih WC yang diberakin oleh ekonomi kapitalis. – Prof. Dr. M. Dawam Rahardjo, Rektor UP45 Yogyakarta.
Pendapat profesor Dawam Rahardjo di atas dikutip dari satu video pendek yang viral via WhatsApp Group (20/3). Tidak sendiri, dua figure lainnya dalam video berdurasi 1 menit 55 detik yaitu Profesor Sri-Edi dan Doktor Revrisond mengutarakan pendapat tentang kedudukan bangsa Indonesia kontemporer.
Pidato rektor UGM pada Dies Natalis 2013; kita tidak berdaulat dalam teknologi, kita tidak berdaulat dalam bibit, kita tidak berdaulat dalam mesiu, kita tidak berdaulat dalam pangan, kita tidak berdaulat dalam energi, kita tidak berdaulat dalam obat, kita tidak berdaulat dalam industri. Obat hanya peracik, industri hanya perakit. Kita ini kehilangan banyak kedaulatan. Nah, saya menuding apa yang kau ajarkan kepada para mahasiswamu. Kok, para mahasiswamu jadi kayak begini dan tidak melihat bahwa sekarang keadaannya bertentangan dengan Undang-undang Dasar. Tidak melihat bahwa tanpa kedaulatan itu memalukan. Kok, tidak ada yang kerasa itu?! – Prof. Dr. Sri-Edi Swasono, Ketua Majelis Luhur Taman Siswa.
Saya bisa menyaksikan beberapa anak muda yang masih jomblo berwiraswasta dan bisa menjadi agen perubahan. Ironisnya, semangat berwirausaha tersebut justru lebih banyak tumbuh dari pengalaman, komunitas, dan proses belajar mandiri dibandingkan dari pendidikan formal. Di banyak sekolah maupun perguruan tinggi, kewirausahaan masih sering dipahami sebatas mata kuliah atau teori, belum sepenuhnya menjadi budaya yang mendorong keberanian mengambil risiko, berinovasi, dan menciptakan nilai bagi masyarakat.
Sekarang universitas berhentilah menyibukkan diri dengan embel-embel “world class university”, “research university”, whatever … Bagi saya itu semua hanyalah cerminan dari neokolonialisme. Dan jangan-jangan kenyataannya seperti itu. Ya. Bahwa pada dasarnya, perguruan tinggi di Indonesia selama ini berperan sebagai pusat pengkaderan agen-agen kolonial. – Dr. Revrisond Baswir, Tim Ahli Pusat Studi Ekonomi Kesehatan UGM.
Prediksi tersebut menunjukkan optimisme terhadap bonus demografi dan posisi strategis Indonesia, meskipun realisasinya tentu dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti produktivitas, kualitas sumber daya manusia, inovasi, dan dinamika ekonomi global.
Terlepas dari apakah kita sepakat dengan pandangan M. Dawam Rahardjo, Sri-Edi Swasono, maupun Revrisond Baswir, ketiganya mengajukan pertanyaan yang sama: apakah Indonesia telah menjadi bangsa yang menciptakan nilai, atau masih lebih banyak menjalankan peran sebagai pelaksana dalam rantai ekonomi global?


